Biarkan aku lelah dengan sendirinya.

Biarkan aku temukan titik jenuhku sendiri.

Aku bukannya bodoh. Hanya saja aku ingin menjadi yang terbaik di waktu ini.

Tak apa aku mengalah saat ini. Aku belum bosan untuk terus mengerti, dan memahamimu.

Biarkan aku melakukan apa yang memang seharusnya ku lakukan. Meski tak dihargai. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari hobbyku.

Aku akan terus belajar untuk memahamimu. Memahami dan menyelamimu lebih dalam.

Karena aku tahu masih banyak hal yang mungkin belum aku pahami dari dirimu.

Biarkan aku terus mengerti kamu hingga aku lelah dengan sendirinya.

Biarkan waktu yang menunjukkan sampai kapan aku harus berhenti.
Iklan

Bukan seperti ini.

tumblr_static_tumblr_static__640

Beberapa hari yang lalu, kita masih sempat untuk saling bertukar kabar. Berbagi cerita, bertukar fikiran, bahkan kita masih sempat merasakan rindu yang sama.

Tapi saat ini, semua itu sudah menjadi masalalu.

Karena entah kenapa kamu memilih untuk diam dan menjauh. Entah apa yang menyebabkan kamu bersikap seperti ini.

Mungkin benar katamu, aku adalah sosok wanita yang tidak memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Sehingga akupun tak dapat memahami apa yang membuatmu bersikap seperti sekarang ini.

Saat ini kamu hanya diam, tak sepatah katapun terucap dari mulutmu.

Apa kamu bisu?

Atau bahkan tuli?

Disini aku menerka-nerka sendiri. Mungkin kamu sudah cukup lelah untuk belajar saling memahami, lelah untuk saling bertoleransi, serta lelah untuk saling berbagi waktu.

Atau bahkan mungkin kamu telah menemukan seseorang yang memang pantas, sehingga memutuskan untuk pergi dan menjauh?

Benarkah itu?

Entahlah..

Kamu yang dulu tiba-tiba hadir mencoba untuk masuk kedalam waktuku, keseharianku, bahkan untuk mengetahui keluargaku, adalah orang yang sama yang tiba-tiba pergi tanpa permisi.

Penilaianku selama ini ternyata salah, kamu tidak cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Kamu hanya diam kemudian menjauh tanpa sebuah sebab.

Benar kata orang-orang diluar sana . Perpisahan yang paling pahit adalah perpisahan yang tak ada kata selamat tinggal. Dia hanya diam, sunyi, tak bersuara, kemudian pergi.

Menjauh tanpa ada sebab dan alasan yang jelas.

Maaf aku telah lancang menuliskan kalimat-kalimat ini.

Jujur, aku tak pernah membencimu sekalipun kamu bersikap seperti ini. Aku hanya bingung dan menerka-nerka apa yang sebenarnya dijadikan penyebab hingga kamu begini.

Andai saja kamu mengucapkan beberapa alasan, mungkin aku akan sedikit mengerti.

Dan aku ingin meminta maaf, mungkin aku tidak cukup baik dalam hal memahamimu, maaf, aku tidak pernah mampu untuk menjadi seperti apa yang kamu ingin

Aku disini bukannya tidak bisa menerima sebuah kepergian.

Aku paham, datang dan pergi adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan, sesuatu hal yang memang bersifat lumrah. Seseorang yang datang pasti akan pergi, entah itu untuk sesaat atau memang untuk waktu yang lama. Semua hanyalah perihal waktu.

Hanya saja aku ingin kita berakhir dengan cara yang baik. Bukan cara seperti ini, pergi dan menjauh tanpa ada sebab dan alasan yang jelas.

Ada yang hilang, disini.

walking-alone1

Sudah larut malam.

Saat ini jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul dua pagi. Tepat pukul dua pagi dini hari dan mataku masih belum mampu untuk memejam. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam otak hingga aku tak bisa tidur malam ini.

Mungkin karena rindu?

Aku rasa aku benar-benar rindu.

Tapi entah apa yang menyebabkan aku tak mampu untuk mengutarakan perasaan ini. Rindu ku malam ini membuat hatiku sakit, sakit karena mungkin hanya aku yang merasakan ini seorang diri. Malam ini, rindu yang ku rasakan benar-benar pahit. Rindu yang ku rasakan saat ini tak semanis biasanya. Dan jujur, aku benci akan hal ini.

Mungkin aku merindukan sosokmu yang dulu. Atau entahlah.

Tapi aku merasa ada yang aneh disini.

Aku merasakan ada hal yang beda, mungkin karena kamu? Atau justru aku?

Jujur aku juga tak dapat memahami dan memaknai sendiri apa yang aku rasakan saat ini. Disini, aku hanya mampu menerka-nerka apa yang kamu rasakan terhadap aku.

Mungkinkah persaanmu masih sama seperti yang kamu ucapakan pertama kali? Dimana untuk pertama kalinya kamu mengatakan bahwa ada perasaan yang kamu rasakan terhadap aku. Atau justru perasaan itu telah memudar bahkan hambar?

Apa mungkin yang kamu rasakan sekarang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini?

Entah perasaan ku benar atau salah, tapi aku merasakan kali ini perasaanku hambar.

Apa mungkin kamu merasakan hal yang sama?

Apa mungkin perasaan kita tak bisa bertahan lama dan hanya sebatas ini?

Apa mungkin tuhan hanya menitipkan perasaan ini hanya untuk sementara waktu?

Jujur, aku tak pernah mampu untuk membayangkan kita akan berakhir seperti apa. Aku hanya berharap ini akan tetap manis, dan berakhir indah.

Tapi saat ini, aku merasakan ada yang hilang.

Entah hati atau memang rasa ini yang telah hilang.

Entahlah.

Merindukanmu malam ini.

Entah atas dasar apa aku kembali mengingatmu. Mengingat kamu yang kini hadir dalam fikiran yang sejatinya tidak pernah aku menginginkan hal ini terjadi.

Tapi tulisan ini bukan menceritakan tentang masalalu seperti yang sebelumnya ku tulis dalam beberapa waktu terakhir. Namun ini tentang sesosok orang asing. Orang asing yang entah siapa, yang bahkan aku belum mengenal sosoknya begitu jauh tapi sudah mampu menyita fikiranku akhir-akhir ini.

Entah apa yang mendasari perasaan itu muncul. Perasaan yang entah akan ku sebut apa. Yang jelas, perasaan itulah yang kerap kali mengganggu ketika aku hendak tertidur. Perasaan itulah yang kerap membuatku tak dapat memejamkan mata karena dibuat gelisah olehnya.

Namun aku takut keliru, karena hati terkadang abu-abu.

Dan aku bertanya-tanya.

Mungkinkah kamu cinta yang aku tunggu?

Karena saat ini, Ada perasaan aneh tiap kali aku mengingat kamu.

Aku tidak tahu kapan ini bermula.

Ketika rindu mulai memanggil namamu.

Justru kali ini aku malah menghindar.

Tapi maaf, bukan maksud aku untuk menghindar darimu.

Aku hanya takut jika perasaan itu benar-benar cinta.

Dan aku takut, ada rasa yang muncul antara kita.

Mungkin aku benci tidak jujur pada hatiku sendiri.

Seandainya kau tahu disini ada rindu.

Juga aku.

Tapi tolong, beri tahu aku kalau mungkin saja aku keliru.

Sungguh, aku disini sedang meragu.

Karena hati terkadang abu-abu.

Saat semuanya telah mati.

tumblr_lsg3hhzcpd1r255aoo1_500

Entah kalimat apa yang tepat sebagai pembuka dari tulisan ku kali ini. Jujur, awalnya aku bingung harus menuliskan tentang apa. Tapi, tiba-tiba saja lagu yang sedang ku putar sebagai pelengkap untuk aku merangkai beberapa kalimat ini, membuat aku terbesit tentang kamu. Tapi tunggu, ini bukan berarti aku kembali merindukan mu. Aku hanya saja teringat kamu. Kamu yang tiba-tiba melintas dalam ingatan. Tapi tidak bersama rindu yang telah hilang entah kemana.

Kini, semua perihal kamu sudah mati. Mungkin ini titik jenuh dimana hati ini sudah mulai lelah, mungkin hatiku lelah terus merindukan kamu seorang diri. Lelah merasakan rindu yang hadir bagai tombak runcing yang menusuk sangat dalam. Dimana saat merasakannya akan membuatku terasa sangat pedih. Karena aku tahu dirimu disana sudah benar-benar menghapus aku dalam hidupmu.

Tak mudah saat aku menjalani semuanya tanpa kamu. Dimana aku tidak lagi menjadikanmu seseorang tempat berbagi cerita. Tidak lagi menjadikanmu sebagai tujuan. Dan aku bukannya tidak bisa hidup tanpa kamu, hanya saja segalanya terasa beda. Namun walau begitu, aku akan tetap menjalani hari-hari ini seperti biasanya, dengan ada atau tidak adanya kamu, hidup ini akan terus berjalan.

Dan aku memang tak bisa menuntutmu untuk tetap tinggal dan menyalahkan kamu yang memilih untuk pergi. Mungkin memang rasa itu yang telah hilang, pergi entah kemana yang akhirnya mendorongmu untuk memutuskan hubungan ini.  Aku juga tak dapat menuntut perasaan itu hadir kembali. Mungkin memang semesta hanya memberikan waktu yang singkat. Waktu yang begitu singkat untuk aku benar-benar merasa dicintai olehmu. Tapi aku percaya ini sudah takdir. Takdir yang harus aku terima walau akhirnya aku harus benar-benar merasa sakit saat kehilanganmu.

Dan tahukah kamu? Aku adalah orang yang paling patah saat kamu menginginkan kita pisah.

Aku bukannya membencimu, hanya saja hati ini sudah benar-benar jenuh dan lelah. Lelah akan rasa sakit itu sendiri. Aku yang dilepaskan begitu saja. Sakit karena dicampakkan tanpa alasan oleh seseorang yang selalu kuinginkan.

Tapi kini, saat aku kembali teringat kamu.  Semua rasa itu telah hilang. Semua perasaan sayang, bahkan rindu yang selalu rajin menghampiri pun kini sudah enggan untuk hadir.

Aku yakin ini adalah ujung dimana rasa itu memudar dengan sendirinya. Dan semua perihal kamu adalah masa lalu yang sudah berhasil aku lewati dengan segala perjuangannya.

Rasa sedih dan pedih itu seakan hilang. Melenyap bersama waktu yang enggan berhenti. Kini, aku mampu tertawa dan percaya, bahwa semua akan baik-baik saja.

Diam, merenung, lalu hening.

tumblr_lyen595ZZ91qkynm4

Diam, merenung, kemudian hening.

Itulah malam yang akhir-akhir ini aku lewati. Entah apa, mungkin kegiatan itu bisa di sebut sebagai hobby baru yang sering aku lakukan akhir-akhir ini. Ya walaupun terkadang aku suka merasa sepi sendiri. Hahaha.

Tapi kini aku sudah mulai terbiasa, terbiasa dan bahkan menikmatinya. Menikmati setiap malam dalam keheningan. Karena dalam keheningan itulah kini aku lebih paham dan mengerti akan diriku sendiri. Melalui keheningan dan renungan tersebut aku mengerti lebih dalam akan aku. Ya, aku dan diriku sendiri.

Sosok melankolis? Yayaya, terserahlah kau mau beranggapan apapun tentang aku. Aku tak peduli dan tak ambil pusing. Mungkin memang pernyataan itu tidak seutuhnya salah. Aku memang seorang pemikir yang mendalam.

Kau tau apa yang membuatku menyukai malam dan keheningan? Karena hanya pada malam lah aku dapat menikmati ketenangan yang tidak aku dapat di siang harinya. Dimana kita sudah cukup lelah dengan segala kepenatan dan segala kegiatan yang memusingkan fikiran.

Berhenti soal malam, kini aku juga sudah mulai menikmati kesendirianku. Tahukah kamu? tadinya aku ini adalah sosok orang yang mungkin tak bisa melakukan segala halnya sendiri. Dulu aku adalah seseorang yang benci dengan keheningan, kesunyian dan bahkan kesendirian. Entah apa, tapi dulu aku benar-benar benci  hal itu.

Tapi kini aku sadar, tak selamanya kita mengandalkan orang lain dan mengharapkan untuk bersama dengan seseorang yang kita inginkan.  Terkadang kita harus benar-benar belajar untuk melakukan segalanya sendiri. Ya, “SENDIRI”. Kalimat itulah yang dulu benar-benar aku benci, tapi kini aku sudah mulai terbiasa melakukannya dan kini aku belajar banyak. Belajar dari setiap kesalahan yang pernah di lakukan. Mengevaluasi hati sendiri. Karena aku tak ingin jatuh pada masalah yang sama. Dan aku rasa bukan aku saja yang menginginkannya. Aku rasa setiap orang pun tak ingin merasakan jatuh di lubang yang sama.

Kini, aku menikmati kesendirianku dengan terus memperbaiki  diri. Memperbaiki diri dan terus mengevaluasi. Sampai nanti saatnya tiba sosok itu datang sebagai pelengkap. Sebagai pelengkap untuk melengkapi setiap kekurangan dari diriku.

Hey tak terasa saat ini sudah pukul dua pagi, lagi-lagi aku baru sadar bahwa sudah terlalu larut untuk aku meneruskan kalimat ini.

Ya, akan aku jadikan paragraph ini sebagai paragraph terakhir untuk penutup malam ini.  Setelah ini, mari kita lanjutkan untuk menikmati sisa malam dengan sebuah mimpi, mimpi yang akan membawamu  sampai sang fajar tiba dan terbangun dengan senyum dan kebahagiaan yang baru.

Dan, selamat malam untuk kamu sang penikmat malam.

Kalimat untuk ibu

Dengarkan lagu ini sambil meresapi beberapa kalimat yang ku tulis. Dan bayangkan seorang wanita yang telah membesarkanmu hingga sejauh ini.

Mungkin aku memang bukan seseorang yang pandai merangkai kata. Tapi setidaknya aku berusaha untuk menyampaikan apa yang aku fikirkan dan menuangkannya dalam tulisan. Dan aku cukup puas karena telah berhasil menuliskan beberapa kalimat ini. Kalimat yang mungkin sederhana untuk menggambarkan seorang ibu yang luarbiasa hebat.

Entah kenapa, malam ini aku diam dan berfikir, berfikir akan kerasnya pengorbanan seorang ibu. Seorang ibu yang rela mempertaruhkan segalanya, segalanya yang dia miliki hanya untuk kebahagian anak tercintanya. Seorang ibu yang rela mempertaruhkan nyawanya demi kehidupan sang anak. Seorang ibu yang bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya. Seorang ibu yang rela menahan sakit dan perihnya luka hanya untuk anak-anaknya. Seorang ibu yang selalu memberikan senyum walau aku tahu ibu sedang terluka.

Ibu, entah apa yang terbesit dalam benakku hingga aku menulis ini. menulis sambil membayangkan semua pengorbanan yang kau berikan dari aku lahir sampai aku  sebesar ini. Bahkan airmata ku pun ikut menetes saat membayangkan dan memikirkan segala pegorbanan dan perjuanganmu. Pengorbanan yang tak pernah kau hitung. Segala perjuangan yang tak lelah kau lakukan hanya demi anak-anakmu.

Semua perih, luka, dan airmata yang kau rasakan, dan tak sedikitpun kau mengeluh. Kau berikan seluruh waktu dan hidupmu untuk anak-anakmu. Segala hal yang kau lakukan tak lain hanya demi membahagiakan anak-anakmu. Kau selalu mengusahakan apapun yang sudah menjadi kebutuhanku. Kau penuhi segala kebutuhanku dengan kerja keras dan segala susah payah yang kau korbankan untuk anakmu. Ibu, tak pernah sedikitpun kau menunjukkan bahwa kau lelah.

Kau selalu berusaha dan sekuat tenaga untuk terlihat tegar di depan anak-anakmu. Kau tak pernah menunjukkan masa-masa sulitmu. Kau tak pernah menunjukkan rasa sedihmu. Kau pendam segala bebanmu dan hanya kau tuangkan dalam doa dan airmata mu.

Ibu, semakin hari kau menua dan rapuh ibu.

Maafkan aku yang seringkali menyusahkanmu, maafkan aku yang sering kali mengecewakanmu, maafkan aku yang sering kali membuatmu sedih. Maafkan aku yang sering kali membuatmu menangis karena aku. Dan maafkan aku karena sampai saat ini aku masih belum mampu untuk membahagiakan mu.

Ibu, aku tahu disetiap marahmu tak lain karena kau benar-benar menyayangiku, menyayangi anak-anakmu. Menyayangi dengan seluruh perasasaan cinta dan kasih sayangmu. Memberikan seutuhnya perasaan itu hanya untuk anak-anakmu.

Ibu, aku tahu di setiap doamu selalu ada aku yang kau sebut. Dalam setiap sujud dan doamu selalu anak-anakmu lah yang kau utamakan dalam doa. Bahkan sering kali kau mengabaikan kebahagiaanmu. Kau selalu mengutamakan kebahagian keluarga dan anak-anakmu.

Tuhan, jika aku boleh meminta. Ijinkanlah aku untuk membuatnya bahagia. Mengganti setiap airmatanya dengan senyum kebahagiaan. Senyum kebahagiaan melihat anaknya sukses kelak.

Tuhan, buatlah atas apa yang dia korbankan selama ini sebagai sebuah pahala untuknya. Hapuskanlah segala dosa-dosanya dengan air matanya yang ia teteskan setiap kali menangis karena mendoakanku.

Tuhan, berikanlah kesehatan dan ringankanlah segala beban yang ia tanggung. Limpahkanlah pahala untuknya, pahala karena telah menyayangiku dengan tulus.

Dan untuk ibu, aku menyayangimu.